Kamis, 13 Juni 2013

Kisah Menyentuh Ibu Tua

Oleh: Kukuh T Wijiantara, dikutip dari buku.

Konon pada jaman dahulu, di Jepang ada semacam kebiasaan untuk membuang orang lanjut usia ke hutan. Mereka yang sudah lemah tak berdaya dibawa ke tengah hutan yang lebat, dan selanjutnya tidak diketahui lagi nasibnya.

Suatu ketika ada seorang anak yang membawa orang tuanya (seorang wanita tua) ke hutan untuk dibuang. Ibu ini sudah sangat tua, dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Si anak laki-laki ini menggendong ibu ini sampai ke tengah hutan. Selama dalam perjalanan, si ibu mematahkan ranting-ranting kecil. Setelah sampai di tengah hutan, si anak menurunkan ibu ini.

"Bu, kita sudah sampai",kata si anak. Ada perasaan sedih di hati si anak. Entah kenapa dia tega melakukannya.

Si ibu , dengan tatapan penuh kasih berkata:"Nak, Ibu sangat mengasihi dan mencintaimu. Sejak kamu kecil, Ibu memberikan semua kasih sayang dan cinta yang ibu miliki dengan tulus. Dan sampai detik ini pun kasih sayang dan cinta itu tidak berkurang. Nak, Ibu tidak ingin kamu nanti pulang tersesat dan mendapat celaka di jalan. Makanya ibu tadi mematahkan ranting-ranting pohon, agar bisa kamu jadikan petunjuk jalan".

Dan si anak tersebut pun diam membisu, entah karena dia tersentuh dengan perkataan ibunya barusan, si anak pun langsung memeluk erat ibunya dan mengurungkan niat tersebut.

Negeri Sebuah Kapal

Semalam saya bermimpi berada pada sebuah kapal paling megah dan mewah yg pernah ada. Terbuat dari berbagai bahan logam pilihan yg hanya sangat kuat, tetapi lebih jg berharga dari emas. Mata saya dgn cepat menangkap orang-orang kelas atas yg dihormati serta para pegawai dan pembatu yg menjadi pelayan kapal. Perjalanan yg harus dilalui kapal megah tersebut tidak selalu mulus. Kadang badai besar menghempas, tetapi sejauh ini tak cukup terus menahan kapal yg terus melaju membelah samudra. Hingga entah siapa yg memlulai, ternyata bahan dasar kapal yg begitu mahal menggoda orang2 diatasny untuk menggrogoti dindingnya.

Mereka mengorek sedikit demi sedikit. Semakin hari semakin banyak penumpang yg menambah materi kekayaan mereka. Petugas keamanan kapal dan bbrapa penumpang lain sebenarnya tahu kejahatan terselubung itu. Namun tidak mudah mencari bukti karena dilakukan dikamar masing masing. Beberapa kelompok kecik yg resah tdk bisa berbuat apa-apa, yg lebih berbahaya sebenarnya aktivitas penumpang yg tinggal di pinggiran lambung kapal. Siang malam mereka tak henti-henti mengorek bagian tersebut. Karena disisi inilah terkandung logam mulia yg paling tebal. Padahal resikonya jika bagiab lambung kapal menipis maka kapal akan bocor dan bisa tenggelam kapan saja.

Kejadian ini berlangsung berpuluh-puluh hari hingga kapal mulai mnghadapi ancaman serius. Tetapi berbagai hiburan menarik yg di seselingi pertunjukan sulap sering mmbuat semua penghuni kapal lupa pd keadaan gawat itu, bahkan akhirnya terbiasa, mereka hanya bisa berharap semoga kapal bisa mencapai daratan.

Benarkah tidak ada penegak hukum dikapal itu ? “ternyata ada”. Saya melihat seorang nenek ditangkap dan dipenjara karna mencuri sisa coklat milik orang kaya yg tidak dihabiskannya. Kali ini seorang remaja ditahan atas tuduhan mencuri “sandal butut”. Seorang pelayan ditahan karna dianggap mencuri piring milik majikan. Bahkan , seorang ayah dijebloskan dalam ruangan yg disulap mnjadi penjara dadakan hanya karena men-charger ponselnya di lorong kapal tanpa izin dan dianggap mencuri listril. Semua petugas kapal megah itu tampak sibuk mengadili orang-orang kecil. Hingga akhirnya mereka kehabisan waktu dan tenaga unk mengurus hal-hal besar.

Sementara itu kapal terus digerogoti, dindingnya semakin menipis dan semakin sering oleng. Perjalanan mimpi yg tidak biasa itu mengantarkan kesebuah dialog.  Seorang penumpang bertanya pada petugas “mengapa tidak ada yg bergerak”, padahal aktivitas menggorgoti kapal itu sangat membahayakan kehidupan seluruh penghuni kapal. Tapi diluar kecemasan saya, beberapa hari ini suara helikopter semakin sering terdengar, membawa pergi bbrapa penumpang dan berpeti-peti hasil jarahan mereka. Saat situasi semakin kritis, saya melayangkan pandangan ke ruang nahkoda. Hampir-hampir menangis karena panic dan tak sanggup membayangkan akhir tragis yg mengancam kendaraan semewah ini.

Pada pundak sang nahjoda terletak satu-satunya harapan. Sebab, ditengah lautan ini, hanya sosoknya yg memiliki wewenang untk mengambil langkah2 darurat demi menyealamtkan kapal. Sementara genangan air perlahan tapi pasti mulai menerobos dinding kapal yg berlubang disana sini, semakin lama semakin tinggi. Menimbulkan kepanikan.

           Suasana berangsus-angsur riuh dgn jerit dan tangisan orang2 yg berlarian. Saya menanti. Terus sang nahkoda bertindak. Tetapi sebelum saya tahu apa yg kemudian dilakukan sang nahkoda, mendadak saya terbangun. Hanya sebuah mimpi, tetapi air di sudut-sudut mata saya masih tersisa.

#Kukuh T Wijiantara. Tulisan ini diangkat dari mimpi saya di malam itu, beberapa waktu lalu. (Dibuat pada tanggal 15 Desember 2011).

Selasa, 11 Juni 2013

Sanggupkah Tuhan Menerima Musibah

Sudah lama aku tidak bertemu Mbah Maridjan, dikarenakan aku harus pergi ke luar kota menuntut ilmu. Setelah gempa di Jogja yang membikin hati miris itu, pesantren tempat aku belajar libur, semua santri disuruh pulang. Aku segera teringat Mbah Maridjan, bagaimana kabar orang tua itu yang dulu sering mengajari aku filsafat Jawa.

Tergopoh2 aku menemui Mbah Maridjan, kucari tadi di rumahnya beliau tidak ada. Setengah berlari aku menyusuri pematang sawah yang masih agak basah, sambil sesekali menghirup aroma batang padi yang merasuk. Kata tetangga Mbah Maridjan, beliau sering menyendiri di gubug di tengah sawah kalau sore2 begini. Dari jauh sudah kulihat gubug kecil beratapkan daun kelapa dan damen ( batang padi kering). Setelah dekat, kulihat Mbah Maridjan yang sedang menyalakan rokok lintingannya. Baunya menyengat, tetapi segar apalagi ditambah suasana sore yang semilir.

“ Mbah, Mbah, bagaimana ini Mbah, musibah datang silih berganti, sepertinya sudah waktunya kita melakukan tobat nasional. Mbah Maridjan malah tenang2 saja”

“ Musibah itu bisa jadi rahmat, sebagaimana rahmat juga bisa jadi musibah. Ini hanya kejadian alam biasa Le.”

“ Gimana sih Mbah, musibah ini peringatan dari Tuhan Mbah atas dosa2 kita, sekaligus juga ujian apakah kita tabah menghadapi musibah.”

“ Tuhan pun tak sanggup menerima musibah, Le”

Aku seperti ditampar langsung di otakku, apa pula maksud Mbah Maridjan ini. “ Hhhmm, maksud Mbah Maridjan…?”
“ Tuhan itu Le, baru diduakan saja sudah marah2, baru perintahnya tidak dilaksanakan saja sudah ngirim bencana, lha piye…Tuhannya saja nggak tabah, ciptaannya bisa lebih gak tabah lagi”

“ Sebentar2, aku masih tidak mengerti apa maksud Mbah Maridjan.”

“ Kamu ini pancen bodho Le, kamu ingat kisah Adam dan Hawa, yang dikeluarkan dari surga hanya karena makan buah Khuldi yang terlarang itu, itu kan kesalahan sepele, tapi Tuhan marah, terus Adam dan Hawa ditundung dari surga. Terus kamu ingat kisah Iblis dan Adam, Iblis disuruh menghormati Adam, suruh sujud di depan Adam, lha wong Iblis itu pinter, ya dia nggak mau, dia hanya mau sujud dan hormat kepada Tuhan, lagi2 Tuhan marah, purik, akhirnya Iblis dilaknat. Ingat pulakah kau tentang Sodom dan Gomora, hanya karena homoseksualitas saja seluruh kota dihancurkan. Tuhannya saja kurang dewasa, jangan pula salahkan umatnya kalau kekanak2an. “

Aku hanya bengong, mendengarkan tutur kata Mbah Maridjan yang mengalir sambil mengepulkan asap rokok kretek di jari2 tangannya. Sungguh2 gila Mbah

Maridjan ini, berani2nya menggoyang tahta diktatur Tuhan.

“ Aceh sudah lebur, Jogja sudah hancur, Merapi njeblug, kita harus lebih banyak berdoa Mbah Maridjan, supaya Tuhan mengampuni dosa2 kita.”

“ Hahahahahaha…………………..”

Mbah Maridjan tertawa terkekeh2, sampai terbatuk2, sambil melihat dengan pandangan lucu kepadaku.

“ Kamu ini Le, produk jaman modern koq berpikirnya idiot kaya gitu. Kalau banyak orang berdosa, dosa mereka kan kepada alam dan sesama manusia. Minta ampun lah kepada alam, dengan merawat mereka dengan baik, menjadi bagian dari alam bukan malah memperkosanya. Minta ampunlah kepada manusia2, berhenti korupsi, bantulah para fakir miskin, peliharalah yatim piatu, jalankan negara dengan jujur dan bersih. Itu yang namanya mohon ampun, kalau mohon ampunnya cuma sama Tuhan, kamu malah akan ditertawakan sama Dia.”

“ Ya, tapi Mbah Maridjan, kita perlu pertolongan Tuhan untuk bisa lepas dari derita ini.”

“ Percayalah Le, Tuhan itu egois. Kita harus membantu diri kita sendiri, kamu boleh minta tolong sampai air matamu habis, tapi kalau kamu tidak memperbaiki dirimu sendiri, ya percuma. Lihat itu orang Jepang, kena gempa mereka itu, tapi terus mereka belajar, bikin gedung dan rumah yang tahan gempa. Lihat orang Belanda, kena banjir banding mereka itu, tapi mereka bangkit, bikin dam2 raksasa, sekarang selamatlah mereka dari petaka banjir. Lihat orang2 Eropa, dikaruniai penyakit pes, sampai separuh penduduknya mati, tapi mereka memperbaiki diri, dan hidup sehatlah mereka sekarang. Bencana itu untuk dipelajari, bukan untuk disesali.”

Dongkol hatiku bukan main sama Mbah Maridjan, dari dulu dia selalu bisa membolak-balik perpektif. Dan dia sudah berani mempermainkan syaraf otakku sekarang, tapi aku berusaha menguasai diriku.

“Mbah, kita ini manusia yang egois. Tuhan telah menciptakan alam dengan sempurna, dan menitahkan kita sebagai kalifahnya di dunia ini. Kitalah yang telah tidak sanggup memegang amanat Tuhan itu.”

Mbah Maridjan kembali meringis, seolah mengejek. Matanya yang kecil bulat itu menatap jauh ke hamparan sawah di depannya.

“ Oalah Le, kalau mau jujur sih. Karena konsep Tuhan itu diejawantahkan oleh manusia yang egosentris, akhirnya manusia tambah kelihatan egois. Seharusnya kau yang sekolah itu tahu hal kayak gitu, dan itu pandangan antroposentrismu, kuno sekali cara berpikirmu Le. Manusia itu bagian alam Le, bukan penguasa alam.”

“ Ya biarin Mbah, pandangan antroposentris kan lebih baik daripada percaya hal2 mistis kaya sampeyan, ada Nyi Roro Kidul, Tombak Kiai Plered, Kebo Kiai

Slamet hahahaha………., kebo koq dianggep kiai.”

“ Lho siapa bilang Mbah percaya sama Nyi Roro Kidul, Nyi Roro Kidul itu kan cuman mitos Le, para kawulo cilik seperti kita ini kan sering ditipu sama para penggede2 istana. Raja2 Mataram jaman dulu malu karena di Segoro Lor (Laut Jawa= red) mereka kalah dengan tentara Kumpeni Walanda dan tentara Portugis, jadi mereka menghibur diri dengan menciptakan mitos Nyi Roro Kidul, seolah2 mereka masih menguasai Segoro Kidul (Samudra Hindia= red), memperistri penguasa Segoro Kidul. Cilokone, kita semua percaya adanya Nyi Roro Kidul, kekuatan pusaka2, kita ini memang bodho koq Le, wis bodho mbodhoni wong mesisan.”

Lagi2 Mbah Maridjan bikin aku klenger, dia bilang dia tidak percaya Nyi Roro
Kidul, ngoyoworo (mengada2) saja Mbah tua satu ini.

“ Mbah, musibah demi musibah ini menyelimuti kita, kita harus bergerak
Mbah.”

“ Simbah di sini saja Le, mengabdikan diri untuk penduduk Merapi. Kamu yang masih muda yang harus bergerak, sadarkan orang dari tidurnya, sadarkan orang dari sikap fatalis menghadapi musibah. Sudah sana, belajar yang bener, santri kalau kerjaannya main PS terus ya kayak kamu ini jadinya. Ilmune nggedabus, pangertene mbladhus. Belajar sana bagaimana mengatur bantuan yang tepat guna dan tepat sasaran, jangan hanya kitab kuning kau pelajari, kitab putih pun harus kau pelajari, dan jangan lupa sekarang banyak kitab digital yang bisa dipelajari.“

Sambil menggerakkan tangannya menyuruh aku pergi, Mbah Maridjan merogoh sakunya, dikeluarkannya selembar duit 50 ribu.

“ Ini hanyalah lembaran 50 ribuan Le, kuserahkan padamu. Duit ini akan benar2 jadi milikmu kalau kamu memberikannya kepada yang membutuhkan, banyak itu sepanjang kaki Merapi.”

Dilemparkannya duit itu kepadaku, aku mengambilnya sambil bingung memikirkan apa maksud kata2 Mbah Maridjan yang terakhir tadi.

Dikutip dari buku : Ziarah Ke Makam Tuhan, (M. Amin).

Selasa, 19 Maret 2013

Manfaat Belajar Filsafat

Prof. Dr. Bambang Sugiharto

FILSAFAT ITU RUWET, MENYESATKAN, TAK ADA GUNANYA, BAHKAN BERBAHAYA.
Itu kata orang yang tak mampu berpikir.

1. Filsafat itu ruwet, tapi sebenarnya hidup bisa lebih ruwet akibat cara berpikir yang kacau, tak sistematis dan dasarnya lemah.

Filsafat tampak ruwet karena ia hendak menyiangi benang kusut kenyataan, justru agar petanya lebih jelas dan inti terdalam persoalannya lebih gamblang.
Mutu kesarjanaan di Indonesia umumnya rendah karena cara berpikir yang seringkali kacau, tidak sistematis dan kemampuan argumentasinya rendah. Filsafat membantu menata gagasan, memperdalam analisis dan memperkuat argumentasi.

2. Filsafat itu menyesatkan, tapi sebenarnya lebih sesat orang yang tak tahu apa pendapat pribadinya sendiri karena segala pendapatnya adalah pendapat orang lain; tak tahu siapa dirinya karena segala sikapnya hanyalah penyesuaian diri dengan sikap sekelilingnya atau sekadar “jaim”, jaga image. Lebih sesat lagi orang yang terpenjara oleh masalah yang sebetulnya bukan masalah.

Filsafat melatih kita merumuskan pendapat dan sikap pribadi sehingga tak diombang-ambingkan pendapat orang lain; menjernihkan cara kita melihat mana masalah mana bukan masalah, mana yang penting, mana yang tidak penting; melatih kita untuk melihat berbagai kemungkinan jawaban untuk sebuah persoalan. Dalam kerangka filsafat, hidup adalah seribu kemungkinan pilihan.

3. Filsafat itu tak ada gunanya, spekulasi teori yang tak menginjak bumi, kerjaan orang-orang frustrasi. Tapi sebenarnya lebih tak ada gunanya dan menyedihkan orang yang sibuk bekerja tanpa tahu apa yang sebenarnya ia butuhkan dan rindukan. Lebih menyedihkan orang yang tak bisa melihat kemungkinan lain selain kenyataan yang dijalaninya tanpa pilihan.

Filsafat melatih kita berani mempersoalkan apa yang sesungguhnya kita butuhkan dan kita rindukan, apa tujuan hidup dan kerja, mana lebih penting hidup sukses atau hidup yang bermakna.

4. Filsafat itu berbahaya sebab ia membawa ke arah ateisme atau pemurtadan. Tapi sebenarnya lebih berbahaya mereka yang menghayati agama dengan penuh ketakutan: takut berpikir, takut berdosa, takut neraka, takut dirampok agama lain, takut pada pesona dunia, dan akhirnya takut pada kehidupan. Orang macam ini berbahaya karena merekalah orang-orang yang paling siap melakukan ‘bom bunuh diri’ dan menghancurkan orang lain. Orang macam ini berbahaya, karena gara-gara mereka, Tuhan dan agama jadi tampak begitu dungu, aneh dan sakit.

Filsafat membuat kita berani mempertanyakan keyakinan-keyakinan religius yang terlampau naïf, agresif dan destruktif. Dengan cara itu filsafat justru merupakan upaya terus-menerus untuk menjaga agama dan spiritualitas dari kemungkinan merusakkan dirinya sendiri, dan mengembalikannya setiap kali pada inti ruhnya yang tertinggi.

DALAM DUNIA YANG KIAN SAKIT, FILSAFAT MENJAGA PIKIRAN ANDA TETAP SEHAT DAN JIWA ANDA TETAP KUAT.

Sabtu, 23 Februari 2013

Liputan Pertama di Kota Bandung


Mendapat penugasan ke kota Bandung adalah berita menggembirakan buatku sekaligus itu adalah liputan pertama saya ke luar kota. Hal ini, Sudah cukup lama aku membayangkan waktu luang untuk bisa berkunjung ke ibu kota jawa barat ini.

Aku berangkat sabtu pagi buta, dengan salah satu bus Primajasa. Sesampainya di terminal Leuwi Panjang, aku berusaha menghirup udara segar di bandung berharap ada perbedaannya dengan udara dijakarta, namun percayalah tak banyak perbedaan.

Perjalanan dari terminal menuju hotel yang terletak di tengah jantung ibu kota, membuatku menjerit-jerit dan tersenyum lebar, melihat setiap gedung, yang aku kenal setiap sudut yang aku ingat Gedung Sate hingga menemukan simpang lima,,
kerinduan menyergapku dengan segera betapa aku sangat memimpikan tempat ini.

Setelah meletakkan tas di hotel, aku dan rekanku berjalan keluar hotel, menyusuri tepian jalan pusat perbelanjaan yang nampak jauh berbeda dari kota bekasi. Jajaran pedagang makanan sudah jauh lebih rapi dan modern. Secara penglihatan memang lebih tertata, namun jelas kehilangan magis tradisionalnya ketika mengharuskan semuanya duduk di atas kursi kayu yang gagah.

Pandanganku dengan cepat menjelajah kawasan hiburan dan pusat perbelanjaan. Pinggirannya sudah dikeramik, disitulah biasanya para pedagang berjajar pada akhir pekan, tukang pakaian, bingkai, makanan, meja tulis kecil, poster artis yang juga berdesak-desakan dengan warga bandung yang seringkali berdandan pakaian olahraga namun ternyata hanya berbelanja dan sarapan bubur, namun menurut informasi rekanku wartawan kpk tribun, aktivitas rutin mingguan itu sudah bergeser tempat.

Pasti aku selalu merindukan Bandung.

Jumat, 22 Februari 2013

Duniaku Dalam Jurnalistik


     Sebenarnya jurusanku menawarkan banyak pilihan konsentrasi lagi, namun dari dulu ketertarikanku memang lebih kepada jurnalistik cetak, entahlah padahal aku tak pernah merasa bisa menulis dengan baik, jadi jurnalist televisi bukan pilihanku, mungkin Penulis Sastra bolehlah menjadi pilihan berikutnya, sedangkan menjadi pegawai negeri, periklanan, marketing dan lainnya tidak terlintas dalam benakku sebagai pilihan karir.

    Nasib baik pun menghampiri, dengan adanya kesempatan bekerja pada sebuah media cetak lokal, ini sebuah kesempatan yang harus disyukuri, mengingat tak semua orang bisa merasakan apa yang aku rasakan, aku pun menanamkan tekad untuk belajar banyak dan menjadi jurnalis yang baik. 

     Banyak hal yang memang meruntuhkan idealisme kita, orang pun berpikir wajar jika seorang wartawan baru pemula masih memiliki hal-hal ideal di kepalanya. Berbicara tentang bisnis media, faktor kepemilikan modal memang tak bisa ditepis sama sekali. Sejumlah jurnalis akan melakukan liputan wajib atau yang biasa disebut dengan liputan dewa, yang mana merupakan titipan dari sang pemilik atau pemegang saham. Terlepas dari apakah berita tersebut punya nilai berita yang besar atau tidak, kau tak akan punya kuasa untuk menolak. Atasanmu pun panik dan memaksamu agar tidak mengecewakan sang empunya hajat.

    Media tempatku bekerja juga bukan Media Nasional, melainkan Media Lokal, yang artinya porsi pemberitaan khusus daerah Bekasi lebih besar dibandingkan dengan sajian nasional lain yang bersifat hiburan dan ketebelece. Dan tentu saja akan bersaing dengan media2 lain yang sejenis, dalam beberapa kesempatan sangat mungkin untuk mengorbankan berita demi menonjolkan sajian berita lain yang dianggap akan menaikkan pamor/rating, entahlah apa yang dikurangi, atau mungkin berita pendidikan, politik, kriminal, olahraga atau ekonomi yang harus digeser cukup jauh, bahkan bisa hingga 3 edisi.

     Content pemberitaan pun tak bisa sepenuhnya bebas, kata yang tepat untuk menggambarkannya adalah berita mengikuti selera pasar, tak ada bedanya dengan barang dagangan lain, bila sebuah isu tak terlalu penting untuk hajat hidup orang banyak, namun pemberitaannya bisa dibesar2kan, semua demi memenuhi selera pasar. Isu selebriti yang lebih layak masuk berita infotainment pun bisa dibuat menjadi layak semata-mata karena masyarakat sedang menyukai itu. Ini berbicara tentang sesanggup apa sajian kita mendatangkan iklan, karena media hidup dengan iklan, masa bodoh dengan program edukasi masyarakat,,

     Seiring berjalannya waktu, media pun seakan-akan diberikan kuasa penuh untuk menelanjangi setiap isu, tak ada lagi yang bisa menahan media untuk bekerja dan itu selalu beriringan dengan koar-koar kebebasan media. Entahlah, namun aku merasa semakin lama, jurnalisme semakin menakutkan. Teori 'agenda setting' itu benar2 nyata, agenda media akan menjadi agenda masyarakat, media akan membentuk pola pikir masyarakat.

Apakah ini yang dimaksudkan dengan fungsi media informatif dan edukatif...?

informatif iya, edukatif nanti dulu.
informasi yang diberikan belum tentu menjadi apa yang dibutuhkan masyarakat, walaupun memang kita tidak bisa memutuskan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat sepenuhnya dan aku ada di dalamnya.

Kukuh T. Wijiantara, 23 Februari 2013, Kota Bekasi.

Senin, 05 November 2012

Tas Sekolah Penuh Sejarah


Hai kawan !!! Ternyata ada banyak kisah menarik dari Tas sekolah merek Converse yang ada di dalam lemari gw. Tas Sekolah yang sebenarnya awalnya gw kira cuma benda gak penting yang nyimpen benda-benda usang yang udah gak menarik ini, ternyata menjadi tempat penyimpanan benda-benda bersejarah dalam perjalanan hidup gw. Mungkin sedikit lebay kalo gw bilang kaya gitu tapi yang bikin jadi gak lebay ternyata ada beberapa benda yang ngingetin gw tentang sejarah sahabat-sahabat gw, tentang gw juga dan masih banyak lagi.

Awalnya sich gw gak pernah kepikiran buat ngebuka tuh tas. Tapi tiba-tiba aja gw pengen baca buku “Sirah Nabawiyah” gara-gara abis nonton film documenter tentang islam di metro tv tengah malam bolong. Tuh buku yang jadi buku wajib pas mata pelajaran Agama yang dulu diajarin sama pak Muhammad *(Kalo ga Salah), gak gw temuin dimana-mana. Ternyata tuh buku ada di tas usang yang jarang banget gw buka-buka selama lulus sekolah.

            Eh ternyata selain ketemu buku Sirah Nabawiyah yang gw temuin ternyata gw nemuin seberkas sejarah idup yang selama ini mendem dan bulukan aja bareng tuh Tas Sekolah. Mulai dari walkman “aiwa” yang udah rusak yang dulu pas jaman-jaman STM gw buat dengerin MP3 gara-gara kalo buat dengerin music dari kaset CD pasti kasetnya rusak karna lecet-lecet. Ampe modul-modul sekolahan yang udah bulukan dan nyebabin global warming (kertas dibuang percuma).

            Sebenernya ada 2 Tas Sekolah di lemari ini yang satu buat nyimpen benda-benda “usang” dan yang satu lagi buat nyimpen kertas-kertas buluk yang entah berapa puluh tahun kaga gw baca *(Maklum anak STM males baca). Oh iya, Biar enak dan teratur baca tulisan gw. Gw mulai dari yang nyimpen benda-benda usang aja dulu ya.

            Seperti tadi diawal gw bilang di mulai dari walkman "Aiwa" yang udah gak berfungsi. terus ada juga coret-coretan anak-anak STM yang ada tulisannya "Dzirien 57 Sekolah Anti Negeri" yang terpampang di luar Tas. Terus pas gw kudek-kudek niy Tas lagi ada beberapa CD MP3 "Superman Is Dead - Kuta rock city” ampe gw nemuin video game "The Sims Vocation" punya Herni dan Febi tetangga depan rumah yang ampe sekarang gw gak balik-balikin yang ampe sekarang gw gak pernah mainin video game nya. *Uppss Sory yaaa hehee

            Selain itu ada juga di dalam Tas gw bekas Stiker Parkir sekolahan yang pake logo segitiga, dan masih inget kalo ga pasang stikernya dilarang parkir terus ujung-ujungnya diusir sama kedua guru yg paling kece pak Armilin dan Fikri yang ga tau apa maksudnya.

            Nah sekarang kita berlanjut ke Tas sekolah selanjutnya yang sebenarnya rada gak penting juga buat loe semua. Tapi Menarik niy Tas gw yang satu ini, Tas Sekolah model selempangan yang satu ini kalo diliat sekilas mungkin cuma dipenuhin ama kertas gak jelas dan usang *(ngapa resep banget siih gw nyebut kata-kata usang) tapi ternyata balik lagi niy, banyak sejarahnya lho kawan!!!

            Hal pertama yang gw liat ketika gw ngebuka Tas yg kedua ini adalah kumpulan kertas-kertas soal ulangan ama nilai ulangannya yang angkanya lucu-lucu *Hehe. Selain kertas-kertas buluk ada juga sertifikat-sertifikat PKL/Magang di PT. Alumunium Internusa tahun 2007 yang gw minta sama pak Ikin gara-gara sertifikat yang asli hilang. Yang waktu itu PKL bareng Teguh Gendut dan Nurdin kedua lelaki yang sekarang entah ada dimana.

            Terus ada lagi kertas foto kopian bahasa inggris yang ada gambar-gambar vulgar seperti gambar Pistol Koboy, belahan gunung ampe hutan belantaranya yang masih tersimpan rapih kalo boleh mau gw bingkai niy gambar *haha. Selain gambar, ada juga graviti yang ditulis sama Monyenk mantan panglima Dzirin sekaligus antek-entek The Jak "Persija Ampe Mati". Begitu juga graviti Amir alias batak tentara republik dzirin yg masih menghias di Tas sekolah gw dan Gravitinya Andri atau Bantet anak korban budaya populer yang entah ada dimana.

            Sekarang kita balik lagi kebahasan kita. Masih berlanjut sama kertas-kertas, ternyata kertas2 yang udah usang ini terselip nomer-nomer hape cewe lho semasa gw sekolah dulu. Salah satunya ada Indah cewek muslimah yang sempet jadi idola sekolahan gw waktu itu, Ada melisa anak Tambun yang dikenalin ama pegawai Bekam dan Rahma wanita yang pertama yang bikin gw jatuh hati di pertemuan pertama. Tapi sayang nomer hapenya udah ga aktif. *Ngeneess

            Yah mungkin kertas-kertas tadi yang bisa gw ceritain dari Tas kedua gw sedikit, selain kertas lain kaya sertifikat-sertifikat PKL, sertifikat Dauroh pesantren kilat yg dibimbing selama 5 hari. Terus ada juga bekas kartu-kartu peserta ulangan ampe kartu pembayaran/SPP masih tersimpan rapih namun agak kucel, selanjutnya ada juga modul-modul Syariat Salafi yang gak pernah gw sentuh lagi *(bukan karena gw Salafi tapi emang gw males aja, tapi kayanya sich emang gw bukan Salafi tapi Muhammadiyah. Tapi kalo sekarang sih gw Nadhatul Ulama hahahhaha)

            Yah tapi itulah cerita dari Tas Sekolah yang udah usang (tuh khan usang lagi gw sebut). Ternyata benda-benda yang kita pikir gak penting dan rongsokan (ah gw ada kata lain selain usang yaitu rongsokan hehehhehe) justru menjadi saksi bisu atau penanda kejadian-kejadian yang udah kita lewatin.

Dan yang terakhir, paling sisa-sisanya ada kabel-kabel gak jelas ama chargerannya, brosur yang akhirnya gak penting yang dikasih orang gak jelas dipinggir jalan, botol obat jerawat yang ada tulisan “tea tree oriflamme”(sebenarnya ada cerita dibalik niy botol tapi yaudahlah kapan-kapan aja dibahasnya ehehehhe) ampe majalah pelem dan bola yang entah udah berapa puluh tahun ga gw baca.

Penulis: Kukuh T. Wijiantara, Tanggal 06 November 2012.  Seorang mahasiswa semester 5 penikmat sastra yang tinggal dipinggiran kota Bekasi.

*Dan maaf kalo struktur kata-kata dalam tulisan gw tidak sesuai dengan kaidah bahasa indonesia yang baik dan benar, lagi pula emang dibuat gak serius... hehee